Nama : Nur Rahma Nugraha
Kelas : A PG-PAUD
NIM : 1349041004
Model-Model
Pembelajaran Internet
Ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui internet yang layak
dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan
mendayagunakan internet, yaitu: (1) Web Course, (2) Web Centric Course, dan
(3) Web Enhanced Course 3
1. Web Cource
Web Course adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran di mana
seluruh kegiatan belajar sepenuhnya disampaikan melalui internet.
Dengan kata lain, Web course adalah penggunaan internet untuk
keperluan pembelajaran, di mana seluruh bagian bahan belajar, diskusi,
konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui
internet. Siswa dan guru sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi
antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat. Komunikasi
lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous.
Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk
keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian, karena semua proses
pembelajaran sepenuhnya menggunakan fasilitas internet seperti email, chat
rooms, bulletin board dan online conference.
Selain itu sistem ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai
sumber belajar (digital), baik yang dikembangkan sendiri maupun dengan
menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link) ke
berbagai sumber belajar yang sudah tersedia pada internet, seperti data base
statistic berita dan informasi, e-book, perpustakaan elektronik dan
lain-lain.
Bentuk pembelajaran model ini
biasanya digunakan untuk keperluan pendidikan jarak jauh (distance
education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual
campus/university ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan
pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian
akan diberikan sertifikat.
2. Web Centric Course
Web Centric Course adalah sebagian bahan belajar, diskusi,
konsultasi, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan
sebagaian kegiatan lain disampaikan secara tatap muka.
Sebagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan
disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan sebagian konsultasi, diskusi
dan latihan dilakukan secara tatap muka, walaupun dalam proses belajarnya
sebagaian dilakukan dengan tatap muka yang biasanya berupa tutorial, tetapi prosentase
tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proses pembelajaran
melalui internet.
Bentuk ini memberikan makna bahwa kegiatan belajar bergeser
kegiatan di kelas menjadi kegiatan melalui internet sama dengan bentuk web
course, siswa dan guru sepenuhnya terpisah tetapi pada waktu-waktu yang telah
ditetapkan mereka bertatap muka, baik di sekolah maupun ditempat-tempat yang
telah ditentukan seperti di ruang perpustakaan, taman bacaan, ataupun di balai
pertemuan.
Penerapan bentuk ini sebagaimana
yang telah dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka yang
menggunakan sistem belajar secara of campus.
3. Web Enhanced Course
Web Enhanced Course adalah pemanfaatan internet untuk pendidikan
yang menunjang peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga
pembelajaran utamanya tatap muka di kelas.
Web Enhanced Course merupakan pemanfaatan internet untuk
pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas belajar mengajar di kelas.
Bentuk ini juga dikenal dengan nama web lite course, karena kegiatan
pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.
Peranan internet disini adalah untuk menyediakan sumber-sumber
belajar yang sangat kaya akan informasi dengan cara memberikan alamat-alamat
atau membuat link ke pelbagai sumber belajar yang sesuai dan bisa diakses
secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan
berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara timbal balik. Dialog
atau komunikasi dua arah tersebut dimaksudkan untuk keperluan berdiskusi,
berkonsultasi, maupun untuk bekerja secara kelompok.5
Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya, pada bentuk web enhanced
course ini prosentase pembelajaran melalui internet justru lebih sedikit
dibandingkan dengan prosentase pembelajaran secara tatap muka, karena
penggunaan internet adalah hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran secara
tatap muka.
Bentuk ini dapat pula dikatakan sebagai langkah awal bagi intitusi
pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran berbasis teknologi
informasi, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan internet secara lebih
kompleks, seperti web centric course atau pun web course.
Baik pada model ataupun web course, web centric course ataupun
web enhanced course, terdapat beberapa komponen aktivitas seperti
informasi, bahan belajar, pembelajaran ataupun komunikasi, penilaian yang
bervariasi. Secara umum komponen aktivitas dan strukturnya dapat diterapkan
dalam pengembangan pembelajaran melalui internet.
Pengembangan Model Pembelajaran melalui Internet
Pengembangan sistem pembelajaran
berbasis internet, terlebih dahulu perlu dilakukan pengkajian atas seluruh
unsur dan aspek sebagaimana telah diuraikan di atas, sehingga bisa didapatkan
pegangan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem
pembelajaran berbasis internet. Di samping itu juga diperlukan pertimbangan dan
penilaian atas beberapa hal yang tidak kalah pentingnya antara lain:
1. Keuntungan. Sejauhmana sistem pembelajaran berbasis internet
akan memberikan keuntungan bagi intitusi, staf pengajar, pengelola, dan
terutama keuntungan yang akan diperoleh siswa dalam meningkatkan kualitas
mereka apabila dibandingkan dengan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka
secara konvensional
2. Biaya pengembangan infrastruktur serta pengadaan peralatan
software
3. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur,
mengadakan peralatan serta sofware tidaklah sedikit. Untuk itu perlu dipertimbangkan
hal-hal seperti, apakah akan membangun suatu jaringan secara penuh ataukah
secara bertahap, apakah akan mengadakan peralatan yang sama sekali baru ataukah
meng-upgrade yang sudah ada atau scound. Mesti diperhatikan bahwa
sofwere yang asli bukan bajakan harganya relatif mahal. Untuk itu
dipertimbangkan kemampuan menyediakan dana dalam setiap pengambilan keputusan.
4. Biaya operasional dan perawatan. Suatu sistem akan
berhjalan apabila dikelola secara baik. Dengan demikian, sistem pembelajaran
berbasis internet ini, juga diperlukan biaya operasional dan perawatan yang
tentunya tidak sedikit. Biaya operasional, honor pengelolaan, biaya langganan
ISP (Internet Service Provider), biaya langganan saluran telepon tersendiri dan
biaya pulsa telepon apabila berkeinginan menggunakan dial-up. Sedangkan biaya
perawatan termasuk penggantian suku cadang yang mengalami kerusakan baik karena
umur maupun kesalahan prosedur pemakaian. Untuk menanggulangi biaya
'operasional dan perawatan tersebut, dapat dilakukan dengan mendayagunakan
sistem tersebut agar mampu menghasilkan uang (income generating), antara
lain dengan membuka warnet untuk umum, mengadakan pelatihan-pelatihan dan
lain-lain.
5. Sumberdaya manusia. Untuk mengembangkan dan mengelola jaringan
dan sistem pembelajaran, diperlukan sejumlah sumberdaya manusia yang memiliki
kompetensi dan integritas yang tinggi. Dalam hal ini termasuk guru-guru yang
harus memahami prinsip-prinsip pembelajaran melalui internet. Untuk keperluan
itu hendaknya dilakukan identifikasi dan kemudian dipersiapkan tenaga-tenaga
tersebut, apakah bisa dicukupi dari dalam ataukah harus merekrut tenaga-tenaga
barn. Untuk membekali tenaga-tenaga tersebut perlu diberikan pelatihan,
diperhitungkan lama waktu pelatihan, tempat pelatihan, cara
pelatihan agar bisa menfhasilkan tenaga yang memiliki kualifikasi.
6. Siswa. Yang tidak kalah pentingnya untuk
diperhatikan adalah mengetahui sejauhmana kesiapan siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan internet yang akan diselenggarakan.
Kalau internet merupakan sesuatu yang baru bagi sebagian besar siswa, tentunya
perlu dilakukan serangkaian upaya untuk mengkondisikan agar mereka siap
berpartisipasi secara aktif dalam sistim pembelajaran yang baru tersebut.
Adalah hal yang tidak mudah untuk merubah kebiasaan mereka yang telah terbiasa
belajar secara tatap muka secara konvensional selama bertahun-tahun, yang
tentunya telah menjadi gaya belajar atau kebiasaan yang sudak mendarah daging.
Berdasarkan kajian dan pertimbangan sebagaimana
telah dibahas di atas, kemudian sistim pembelajaran internet dikembangkan
melalui tiga cara pengembangan yaitu:
1. Menggunakan sepenuhnya fasilitas internet yang
telah ada, seperti e-mail, IRC (Internet Relay Chat), word wide web, seach
engine, millis (milling list) dan FTP (File Transfer Protocol).
2. Menggunakan sofware pengembang program
pembelajaran dengan internet yang dikenal dengan Web-Course Tools, yang
di anataranya bisa didapatkan secara gratis ataupun bisa juga dengan
membelinya. Ada beberapa vendor yang mengem-bangkan Web Course Tools seperti
WebCT, Web fuse, TopClass dan lain-lain.
3. Mengembangkan sendiri program pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan (tailor made), dengan menggunakan bahasa
''pemrograman seperti ASP (Active Server Pages) dan lain-lain.
Setiap cara memeliki kelebihan dan kekurangan,
misalnya pengembangan program pembelajaran dengan menggunakan fasilitas
internet mempunyai kelebihan biayanya sangat murah dibandingkan yang lain,
namun ada kekurangan yaitu dalam pengelolaan aga ksulit karena sifatnya tidak
terintegrasi. Sedangkan apabila menggunakan Web Course Tools atau pengembangan
secara taillor-made biayanya jauh lebih mahal, namun memiliki kelebihannya
yakni mudah dalam pengembangan dan pengelo-lalaannya, lebih power full, dan
sesuai dengan kebutuhan.
Untuk memilih salah satu cara yang akan dipakai,
ditentukan pada pertimbangan berdasarkan kajian terhadap berbagai hal seperti
yang M. Nafiur Rofiq, Menggagas Model Pembelajaran Melalui Internet telah
dibahas dibagian terdahulu tadi. Namun pada dasarnya mendayagunakan internet
untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan adalah hal yang sangat layak
untuk segera dilaksanakan secara luas di institusi-institusi penyelenggara
pendidikan di Indonesia.
Aplikasi Pembelajaran melalui Teknologi Informasi
Dalam proses pembelajaran, aplikasi e-learning bisa
mencakup aspek perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya merupakan
gambaran rencana (skenario) yang memproyeksikan mengenai beberapa aktivitas dan
tindakan yang akan dilakukan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Dengan demikian aplikasi perencanaan pembelajaran yang berbasis e-learning pada
dasarnya memuat rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan pembelajaran
dengan memanfaatkan jaringan komputer, baik intra-net maupun internet. Pada
prinsipnya dalam peren-canaan pembelajaran terdapat empat komponen utama,
yaitu: materi/bahan ajar, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi.
Komponen tujuan berfungsi untuk menentukan arah
kegiatan pembelajaran. Dari rumusan tujuan pembelajaran harus sudah
terproyeksikan bagaimana proses berlangsungnya pembelajaran serta
kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki siswa sebagai hasil belajar. Rumusan
tujuan pembelajaran tidak hanya menggambarkan hasil, tetapi juga menggambarkan
kegiatan atau proses.
Penetapan bahan ajar yang akan berfungsi untuk
memberi makna terhadap upaya pencapaian tujuan. Dalam pembelajaran
konvensional, bahan ajar untuk setiap mata pelajaran sudah tersedia dalam buku
paket, dan secara tatap muka disampaikan oleh guru dengan menggunakan metode
pembelajaran yang dipilihnya. Sedangkan bahan ajar untuk e-learning, selain
para dapat memanfaatkan buku sumber yang tersedia, juga dapat secara langsung
mengakses bahan ajar/informasi pada beberapa halaman web yang telah dibuat
sebelumnya. Dengan demikian perolehan informasi pembelajaran akan bersifat
lebih luas, mendalam, dan bervariasi.
Kegiatan belajar mengajar yang tercakup dalam
perencanaan pembelajaran pada intinya berisi mengenai deskripsi materi/bahan
ajar, metode pembelajaran, dan alat/media pembelajaran. Untuk kepentingan media
pembelajaran berbasis e-learning, penentuan bahan ajar hanya memuat
pokok-pokoknya saja, sementara deskripsi lengkap dari pokok-pokok bahan ajar
disediakan dalam halaman web yang akan diakses siswa.
Evaluasi sebagai komponen terakhir dalam
perecanaan pembelajaran berfungsi untuk mengukur sejauhmana tujuan pembelajaran
telah tercapai dan tindakan apa yang harus dilakukan apabila tujuan tersebut
belum tercapai. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis e-learning, kegiatan
evaluasi untuk mengetahui hasil dapat dilakukan secara bervariasi, setiap siswa
dapat melihat dan mengikuti suruhansuruhan di halaman web. Bisa berupa
pertanyaan, tugas-tugas, dan atau latihan-latihan yang harus dikerjakan siswa.
Dalam implementasi pembelajaran, terdapat model penerap-an e-learning
yang bisa digunakan, yaitu: Selective Model, Sequential Model, Static
Station Model, dan Laboratory Model. Adapun penjelasannya sebagaimana berikut:
1. Selective Model
Model selektif ini digunakan jika jumlah komputer di sekolah sangat
terbatas (misalnya hanya ada satu unit komputer). Di dalam model ini, guru
harus memilih salah satu alat atau media yang tersedia yang dirasakan tepat
untuk menyampaikan bahan pelajaran. Jika guru menemukan bahan e-learning yang
bermutu dari internet, maka dengan terpaksa guru hanya dapat menunjukan bahan
pelajaran tersebut kepada siswa sebagai bahan demonstrasi saja. Jika terdapat
lebih dari satu komputer di sekolah/kelas, maka siswa harus diberi kesempatan
untuk memperoleh pengalaman langsung.
2. Sequential Model
Model ini digunakan jika jumlah komputer di sekolah/kelas terbatas
(misalnya hanya dua atau tiga unit komputer). Para siswa dalam kelompok kecil
secara bergiliran menggunakan komputer untuk mencari sumber pelajaran yang
dibutuhkan. Siswa menggunakan bahan e-learning sebagai bahan rujukan atau untuk
mencari informasi baru.
3. Static Station Model
Model ini digunakan jika jumlah komputer di sekolah/kelas terbatas,
sebagaimana halnya dalam sequential model. Di dalam model ini, guru mempunyai
beberapa sumber belajar yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
sama. Bahan e-learning digunakan oleh satu atau dua kelompok siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kelompok siswa lainnya
menggunakan sumber belajar yang lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
sama.
4. Laboratory Model
Model ini digunakan jika tersedia sejumlah komputer di
sekolah/laboratorium yang dilengkapi dengan jaringan internet, di mana siswa
dapat menggunakannya secara lebih leluasa (satu siswa satu komputer). Dalam hal
ini, bahan e-learning dapat digunakan oleh seluruh siswa sebagai bahan
pembelajaran mandiri.
Setiap model e-learning yang dapat
digunakan dalam pembelajaran di atas masing-masing mempunyai kekuatan dan
kelemahan. Pemilihannya bergantung kepada infrastruktur telekomunikasi dan
peralatan yang tersedia di sekolah. Bagaimanapun upaya pembelajaran dengan
pendekatan e-learning ini perlu terus dicoba dalam rangka mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi di masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar